|
Written by Syaiful Bahri
|
|
Wednesday, 08 April 2009 |
Pelemahan Permintaan Pasar Utama Dunia dan Pengaruhnya terhadap Kinerja TPT Nasional Pendahuluan Seiring dengan pelemahan perekonomian dunia khususnya negara mitra dagang utama al; Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (EU27), Jepang, Singapore, dan China yang rata-rata menunjukkan penurunan akibat krisis finansial global yang mendorong pelemahan permintaan domestik di negara tersebut yang dengan sendirinya akan mempengaruhi kinerja perekonomian Nasional terutama pada sisi ekspor. Melemahnya daya beli masyarakat akibat meningkatnya tekanan inflasi, naiknya angka pengangguran dan adanya kebijakan proteksi pasar domestik di beberapa negara mitra dagang telah memperburuk keadaan. Pengaruhnya terhadap Kinerja Industri TPT Nasional Perlambatan perekonomian global yang dipicu oleh mencuatnya kasus subprime mortgage di Amerika Serikat yang kemudian berubah menjadi krisis financial global. Disisi lain bahwa kuatnya tekanan inflasi sejalan dengan tingginya harga energi dan naiknya beberapa jenis komoditi utama pada paruh-pertama 2008 telah mendorong melemahnya permintaan dunia pada komoditas utama dunia khususnya produk-produk industri manufaktur termasuk produk TPT di beberapa pasar utama dunia antara lain Amerika Serikat, EU27, dan Jepang sehingga mempersempit aktifitas perdagangan TPT di pasar global dan berimbas pada stagnasi aktifitas industri TPT di negara-negara produsen termasuk Indonesia. Kekawatiran akan turunya permintaan produk TPT di pasar utama tersebut terutama Amerika Serikat dan EU27—yang merupakan kontributor terbesar pada penyerapan TPT dunia—yang pada tahun 2007 yang lalu dari kedua pasar tersebut telah menyerap masing-masing sekitar 42.3% dan 18.7% dari total ekspor TPT dunia senilai US$583 Milyar. |
|
Read more...
|
|
|
Written by syahrul sani
|
|
Wednesday, 08 April 2009 |
Antisipasi ASEAN Hadapi Krisis Global Langkah Indonesia untuk memperkokoh kebijakan moneter dalam menghadapi krisisnampaknya akan diikuti oleh negara-negara Association of South East Asian Nations (ASEAN). Pemimpin negara-negara ASEAN akan membuat kebijakan moneternya menjadi lebih mudah bagi pengusaha, dan juga untuk memproteksi produknya. Sepuluh pemimpin dari negara ASEAN telah melakukan pembicaraan di Hua Hua, Thailand untuk membahas bagaimana ASEAN sebagai komunitas menghadapi krisis finansial yang 'memukul' ekspor, yang umumnya menjadi andalan perekonomian negara ASEAN. "Kami akan mempersiapkan semuanya dari sekarang, yakni sebagai group serta sebagai bagian dari regional Asia”, ujar Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva dalam pertemuan tersebut. Dari draft yang rencananya akan dideklarasikan, menunjukan ASEAN akan melakukan kerjasama dengan negara-negara yang tergabung dalam G-20 untuk membentuk institusi internasional finansial, serta untuk mengkoordinasikan kebijakan makroekonomi. |
|
Read more...
|
|
|
Written by syahrul sani
|
|
Tuesday, 07 April 2009 |
Kerjasama Pengembangan Industri
Departemen Perindustrian Republik Indonesia bekerjasama dengan METI (Departemen Ekonomi, Perindustrian dan Perdagangan Jepang) menyelenggarkan seminar yang membahas pasar tekstil dan apparel Jepang beberapa waktu lalu di Jakarta. Seminar yang juga didukung oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Japan Textile Federation (JTF) tersebut diselenggarakan dalam rangka kerja sama pengembangan industri antara Indonesia dan Jepang (MIDEC). Seminar tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia Fahmi Idris, yang dihadiri oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia Mr. Kojiro Shiojiri dan Ketua Umum API Benny Soetrisno. Dalam sambutannya, Benny Soetrisno menyampaikan bahwa Jepang merupakan pasar yang sangat penting bagi industri TPT Indonesia, karena Jepang menempati urutan ketiga sebagai negara tujuan ekspor utama TPT Indonesia setelah AS dan UE. Benny Soetrisno juga menyampaikan gagasan agar dilakukan upaya penjajagan untuk memperoleh kemudahan impor mesin tekstil dari Jepang bagi pengusaha TPT Indonesia. |
|
Read more...
|
|
|
Written by SI
|
|
Friday, 14 November 2008 |
Pasar Domestik Sebagai Guaranteed Market Industri Garment Kecil dan Menengah Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat telah memberikan dampaknya ke hampir seluruh dunia di hampir seluruh sektor. Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia pun turut merasakan akibatnya. Melemahnya pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), dan Jepang, telah menurunkan daya beli masyarakatnya dan sebagai akibatnya permintaan untuk TPT pun mengalami penurunan. Padahal AS, UE, dan Jepang adalah pasar ekspor utama produk TPT dunia termasuk dari Indonesia.
Penurunan permintaan TPT dunia, khususnya dari pasar AS, UE, dan Jepang, tidak hanya dirasakan oleh eksportir dari Indonesia melainkan juga dirasakan eksportir-eksportir TPT dari seluruh dunia. Seperti periode januari-agustus 2008, impor TPT AS dari dunia minus, baik itu nilainya (-3,68%) maupun volumenya (-5,24%). Begitu pula yang terjadi dengan Jepang, untuk impor TPT nya secara nilai -7,80% dan volume -1.14%.
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Syaiful Bahri
|
|
Thursday, 28 August 2008 |
Impor TPT AS masih tumbuh negatif, ekspor Indonesia ke AS naik tipis 0.75% Berdasarkan data Otexa, Major Shippers Report, sampai dengan periode Januari-Juni 2008, secara kumulatif pertumbuhan impor TPT AS masih menunjukan angka negative. Untuk nilai turun (-3.29%) dari 45.30 milyar USD menjadi 43.81 milyar USD dan dalam volume turun (-5.17%) dari 25.71 Milyar SME ke 24.38 Milyar SME. Penurunan terbesar terjadi pada produk-produk Apparel (pakaian jadi) yang turun (-4.04%) dari 34.38 milyar USD ke 32.99 milyar USD, sedangkan untuk produk-produk Non-apparel turun tipis (-0.93) dari 10.91 milyar USD menjadi 10.81 milyar USD.
Sementara itu, pada periode yang sama pertumbuhan ekspor Indonesia ke AS mengalami pertumbuhan positif sebesar 0.75% dari 2.12 milyar USD menjadi 2.14 milyar USD, sedangkan dalam volume naik 2.09% dari 0.83 milyar SME menjadi 0.84 milyar SME.
Kemudian untuk produk apparel pada periode ini, kenaikannya sedikit lebih besar dibandingkan dengan produk-produk non-apparel. Produk apparel naik 0.79% dari 2.00 milyar USD menjadi 2.02 milyar USD dan volume naik 4.11% dari 541.22 juta SME menjadi 563.47 juta SME, sedangkan produk-produk non-apparel kenaikannya hanya tercatat sebesar 0.06% dari 115.88 juta USD menjadi 115.95 juta USD akan tetapi untuk volume justru mengalami penurunan (-1.75%) dari 285.22 juta USD menjadi 280.24 juta USD.
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Syaiful Bahri
|
|
Thursday, 28 August 2008 |
Impor TPT Jepang Masih Tumbuh Negatif Sampai dengan periode Januari-Juni 2008, secara kumulatif total impor TPT Jepang tercatat lebih kecil dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, atau dengan kata lain tumbuh negatif. Pada periode ini Impor Jepang turun baik dalam volume maupun nilai. Untuk volume turun sebesar (-0.8%) dari 1.15 juta ton ke 1.14 juta ton, sedangkan untuk nilai turun (-7.5%) dari 1.61 triliun Yen ke 1.49 triliun Yen. Sedangkan Untuk produk-produk apparel, dalam volume turun (-4.34%) dari 0.47 juta ton menjadi 0.45 juta ton dan untuk nilai turun (-8.82%) dari 1.23 triliun Yen menjadi 1.12 triliun Yen. Kemudian untuk produk non-apparel untuk volume mengalami kenaikan 1.70% dari 0.68 juta ton menjadi 0.69 juta ton dan untuk nilai turun (-3.41%) dari 0.38 trilliun Yen menjadi 0.37 trillun Yen. 
|
|
Read more...
|
|
|